Langsung ke konten utama

Ikan Akan Selalu Ada di Laut

Hari ini saya menemukan diskusi yang menarik tentang kalau kita mengenal laut sebenarnya kita memahami bahwa di laut akan selalu ada berbagai macam jenis ikan dan itu adalah sebuah kesempatan.

Bagi saya setiap orang mengenali berbagai macam jenis “laut”nya masing-masing. Ada orang yang memahami – setiap tahun ada kelahiran anak maka ada peluang untuk memperluas kesempatan proteksi asuransi. Ada yang yang melihat kalau rambut itu selalu tumbuh setiap waktu, maka ada kesempatan untuk bisnis barber shop. Ada yang melihat kalau tanah di dunia itu terbatas dan setiap orang perlu memiliki hunian tinggal, maka itu adalah peluang untuk bisnis property.

Dari diskusi singkat ini saya mendapatkan insight bahwa sebagai seseorang yang ingin mendapatkan peluang, kita perlu mengenali dulu “laut” apa yang ingin kita tekuni. Karena dimanapun laut yang kita tekuni, rasanya akan selalu terdapat peluang. Setelah kita memahami laut yang kita tekuni, kita perlu menyiapkan jala yang cocok sesuai dengan tangkapan yang kita inginkan. Apakah ikan hiu, cumi, atau udang? Sesuaikan ukuran jalanya. Dalam hal ini, apabila ingin mengarungi lautan saham, kita perlu mempersiapkan tools-tools yang diperlukan salah satunya seperti mental belief dan juga trading system yang tepat untuk bisa mengarungi lautan saham dengan baik dan benar. Bagi saya kita tidak bisa menguasai semua field yang ditawarkan, tapi kita bisa bekerjasama di setiap lautan yang ada dengan setiap pelaku / pelaut yang memang menekuni lautan tersebut untuk menghasilkan kolaborasi yang optimal. 😊



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sing Penting Yakin

  Pernah suatu waktu saya ngobrol bertiga dengan teman saya, salah satunya adalah seorang agen asuransi. Si Agen Asuransi ini bercerita kalau, “Kenapa yah saya mau bantu orang lain untuk dapat peace of mind dan keamanan hidup melalui tapi kok orang lain memandang saya sebelah mata?”. Jawaban teman saya lainnya “Ya, karena kamu itu baru di field tersebut, blm ada hasilnya, maka wajar orang meragukanmu”. Dengan sedikit terpukul si Agen Asuransi bertanya lagi, “Yah, kalau gitu bagaimana caranya saya menjalankan bisnis ini dong? Setiap orang kan pasti mulai dari nol ga punya hasil apa-apa, gak mungkin tiba-tiba sudah banyak pengalamannya”. Jawab teman saya satu lagi, “Sing penting Yakin”. Wah, hal itu membekas di diri saya cukup lama. Saya sendiri juga mengalami, setiap kali kita memulai hal yang baru – sering kali kita blm punya any single proof tentang hal yang kita lakukan. Namun, yang membedakan adalah kata-kata “sing penting yakin” ini. Dimana apakah kita punya keyakinan / belie...

Satu Kali Ini Saja...

  Berangkat kerja setiap hari, kadang-kadang ada saja tantangan yang di hadapi, entah jalanan macet karena hujan, ada truk mogok, jalanan macet dll. Sehingga pernah ada masanya ketika saya terlambat pergi ke kantor, saya memberanikan diri untuk lewat “jalur transjakarta” agar tidak telat absensi pagi. Rasanya deg-degan dan syukurnya aman dari polisi saat itu. “Satu kali ini saja…” pikir saya. Namun karena aman saat itu, jadi rasanya besok-besok saya cukup PD untuk datang kantor mepet. Toh, kalau mepet bisa lewat jalur busway lagi. Sampai akhirnya saya membaca tulisan Mark Minervini di bukunya “Think & Trade Like a Champion”, ia menyatakan bahwa hanya dengan pernah mengalami keuntungan besar dalam trading saham 1x – belum tentu artinya cara yang ia lakukan adalah benar. Bayangkan kalau ada 2 orang yang berusaha menyeberang jalan raya besar. Seorang A menyebrang dengan melihat kanan kiri, dan seorang B menyebrang dengan menutup matanya. Pada satu kali percobaan, seorang B berha...

Lebih Baik Trader Retail atau Membeli Reksadana Saham?

Kenapa saya mau trading saham pribadi dibanding mempercayakan dana saya kepada fund manager (reksadana) yang ada? Karena saya percaya, kita bisa mencapai hasil yang lebih baik dari fund manager itu sendiri. Tentunya dengan usaha, pembelajaran dengan waktu yang dalam jangka panjang. Bagi saya ada beberapa kerugian yang dimiliki oleh fund manager yang bisa mengakibatkan kurang efektifnya hasil dari trading itu sendiri. Fund manager memegang dana yang sangat besar, puluhan, ratusan milyar bahkan triliunan rupiah. Dengan dana sebesar itu, mereka perlu menjaga liquiditas dalam pembelian sebuah saham. Mayoritas saham yang dibeli adalah saham yang memiliki kapitalisasi sangat besar. Padahal sejauh yang saya tahu, banyak sekali saham dengan hasil super performance, memiliki likuiditas yang jauh lebih kecil. Fund manager jadi susah masuk ke saham dengan market cap kecil, namun kalaupun bisa membeli saham tersebut, kesulitannya tiba saat perlu menjual saham tersebut di market yang downtrend. Say...