Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Risk Management

Trading Saham Tidak Boleh Rugi

  Saya ketemu dengan banyak orang yang tidak mau trading / investasi di pasar saham karena alasan : “nanti saya rugi”. Ada juga orang-orang yang akhirnya terpaksa menjadi investor di pasar saham, karena memilih menyimpan terus sahamnya yang sudah merugi, alasannya : “kalau saya jual, rugi dong”. Menurut saya hampir 99,99% pelaku pasar saham pasti pernah merasakan rugi di bursa. Buat saya kerugian di pasar saham (cut loss), bukanlah suatu kesalahan – melainkan memang bagian dari bisnis (cost of doing business). Sebenarnya ada banyak cara pandang kita tentang hidup ataupun keuangan, bagi saya – mencoba memaksakan 1 pandangan saja dalam situasi tertentu, terlebih lagi situasi orang lain atau hal yang tidak kita kuasai, belum tentu merupakan tindakan yang bijaksana. Saya melihat cukup banyak orang yang perfeksionis – akan sulit menerima kerugian di pasar saham, karena mereka melihat kerugian sebagai suatu kesalahan (mistakes). Seorang perfeksionis – merasa ‘payah’ kalau menyandan...

Bagaimana Kalau Gagal Trading Saham?

Saya memperlakukan trading saham sama seperti berbisnis. Karena yang kita beli adalah hak kepemilikan atas sebuah perusahaan yang menghasilkan keuntungan pada sector riil. Maka dengan memiliki saham artinya kita juga dapat dianggap berbisnis meskipun tidak masuk dalam aktivitas kegiatan operasional sehari-harinya. Namun trading saham, yang namanya membisniskan “bisnis”, artinya juga memiliki resiko yang sama dengan membuka suatu bisnis. Bayangkan kita membangun suatu usaha dan akhirnya menghadapi kebangkrutan. Hal itu juga termasuk resiko yang ada saat kita memberlakukan trading saham. Buat saya ketika memutuskan suatu hal, terutama yang besar atau penting dalam hidup, perlu kita mempertimbangkan, “what’s worst could happen” kalau usaha kita tidak berjalan seperti yang diharapkan? Kalau di dalam trading saham ada beberapa hal yang bisa diperhatikan seperti, - Kalau saya tiba-tiba kenapa-kenapa (sakit, tidak bisa trading), lalu bagaimana usaha trading saya apakah jadi beresiko? - Kalau ...

Build in Failure

D alam hidup kita pasti bertemu banyak masalah. Ada hujan dan ada panas matahari. Ada sehat ada sakit. Seringkali saya maunya mendapatkan hal yang saya sukai misalnya adem-adem saja, ataupun sehat saja. Saya suka meneglect apa yang terjadi ketika “hal unfavorable” terjadi. Pura-pura seakan hal itu tidak akan terjadi. Selalu berharap semua hal berjalan yang baik-baik saja, padahal kenyataannya dalam hidup tidak bisa seperti itu. Bigger risk, hopefully we’ll get a bigger gain. Ada sebuah buku berjudul Antifragile : menceritakan tentang pentingnya kita memiliki sebuah system yang menjadi lebih kuat ketika menghadapi situasi yang tidak enak. Misalnya, ketika kita melakukan olahraga gym, semakin otot kita di hancurkan dengan berat yang besar, setelah pola makan dan istirahat yang tepat, maka otot kita juga bisa menjadi semakin kuat. Belief yang sama juga saya terapkan dalam trading saham, saya percaya ada momen-momen saham hijau ataupun merah besar. Ketika saham hijau besar, saya yakin ...

Mengakui Kesalahan dalam Trading Saham

Kita terbiasa untuk tidak melakukan sesuatu hal yang salah dalam suatu aktivitas yang kita lakukan. Dalam trading saham, saya belajar sebaliknya. Bahwa dalam trading, kita perlu memiliki mental mengakui kesalahan tentang keputusan pembelian saham kita. Karena di saham saya mau mengumpulkan uang bukan mengumpulkan kesalahan. Menyimpan saham yang merugi, karena ego tidak mau mengakui kesalahan dalam pembelian saham adalah sesuatu hal yang sangat beresiko. Ketika di bursa saham, dengan lebih cepat saya menjual saham yang under performer, saya bisa menggunakan modal saya untuk masuk ke saham yang lebih menguntungkan / top performer, serta saya bisa tidur lebih nyenyak di malam hari 😊 . Itu lah mengapa, sering ditemui untuk sebagai trader yang memiliki profesi lain seperti dokter, kadang kala kesulitan memahami konsep mengakui kesalahan. Kali ini bukan tentang egonya – namun dalam profesinya memang diajarkan untuk memiliki belief system pola pikir tidak boleh salah, karena kalau sebaga...

Parameter Penting untuk Trading Saham

Awal saya mengenal dunia trading saham, saya sering mencari holy grail, saham-saham yang memberikan keuntungan besar bagi saya. Sebisa mungkin saya menghindari kerugian dari saham yang saya pilih. Namun banyak ketidak pastian yang saya hadapi, karena hal itu berada di luar control saya. Namun menariknya melakukan trading, hal itu sangat dekat dengan dunia probabilitas dan statistic. Ada 2 parameter yang saya pelajari dan mengubah cara pandang saya tentang trading. Pertama tentang winning ratio, dimana kita bisa mengetahui ketika kita flip sebuah koin dengan 2 sisi, kita memiliki probabilitas untuk win : loss = 50:50. Dengan melakukan kegiatan trading kita bisa mengetahui jumlah hasil trading kita yang meraih keuntungan dan yang merugi. Apakah kita memiliki ratio 70%, 60%, atau bahkan 30%? Banyak hal yang mempengaruhi hasil dari winning ratio tersebut, apakah kondisi market, ataupun keberuntungan semata. Sejujurnya saya melihat fenomena dari para trader awal (termasuk saya), selalu beru...

Satu Kali Ini Saja...

  Berangkat kerja setiap hari, kadang-kadang ada saja tantangan yang di hadapi, entah jalanan macet karena hujan, ada truk mogok, jalanan macet dll. Sehingga pernah ada masanya ketika saya terlambat pergi ke kantor, saya memberanikan diri untuk lewat “jalur transjakarta” agar tidak telat absensi pagi. Rasanya deg-degan dan syukurnya aman dari polisi saat itu. “Satu kali ini saja…” pikir saya. Namun karena aman saat itu, jadi rasanya besok-besok saya cukup PD untuk datang kantor mepet. Toh, kalau mepet bisa lewat jalur busway lagi. Sampai akhirnya saya membaca tulisan Mark Minervini di bukunya “Think & Trade Like a Champion”, ia menyatakan bahwa hanya dengan pernah mengalami keuntungan besar dalam trading saham 1x – belum tentu artinya cara yang ia lakukan adalah benar. Bayangkan kalau ada 2 orang yang berusaha menyeberang jalan raya besar. Seorang A menyebrang dengan melihat kanan kiri, dan seorang B menyebrang dengan menutup matanya. Pada satu kali percobaan, seorang B berha...

Yuk, Sekali-sekali Ikut Pacuan Kuda

Saya pernah dengar cerita, “Kalau kamu sedang melakukan taruhan di pacuan kuda dan kamu melihat dari 10 kuda yang bertanding, A adalah kuda dengan lari tercepat dan E adalah kuda dengan lari terlambat. Jika saat itu kamu bertaruh sebesar 1 X dan diberikan kesempatan untuk menaikkan size bet mu, maka kamu akan memilih menaruh posisi bet kamu pada kuda A atau E yang akan memenangkan pertandingan tersebut?”. Dengan asumsi seperti ini, mudah bagi kita untuk memilih kuda A yang memiliki record lari tercepat lah yang memiliki kemungkinan lebih besar dalam memenangkan sebuah pertandingan pacuan kuda. Kita semua pastinya ingin memenangkan pertandingan ataupun apapun permainan yang kita lakukan. Dalam contoh pertandingan pacuan kuda, rasanya kita sama-sama sepakat memilih pilihan yang sama. Namun saya berefleksi dalam bertransaksi pada bursa saham, seberapa sering saya memilih pilihan yang tepat berdasarkan dari performanya? Atau sering saya jatuh cinta kepada saham tertentu, karena sudah mem...

Berkenalan Dengan Kejamnya Rugi di Bursa Saham

  Dalam dunia investasi pasti ada dua sisi koin yaitu, sisi kerugian dan keuntungan yang bisa kita alami. Khususnya dalam instrument investasi saham, menurus saya kita berada di aspek probability bukan certainty. Saya belajar dari pengalaman teman saya yang menaruh semua dana pensiunnya di salah satu emiten saham yang dianggap blue chip ataupun saham yang meyakinkan untuk tidak mungkin turun besar. Namun ketika saham tersebut turun besar – ia pun kebingungan untuk perjalanan kedepannya. Misalnya seperti : Dari hal ini saya belajar, sepercaya apapun kamu terhadap suatu hal, jangan izinkan diri kita untuk menanggung kerugian yang sangat besar dalam portofolio / hidup, yang memungkinkan untuk menghancurkan diri kita sendiri. Karena semakin besar kerugian itu, semakin sulit kita untuk recover dari kondisi tersebut. Di buku Mark Minervini yang saya baca, the number tells it all. Pada table dibawah ini terlihat kalau semakin besar kerugian kita maka akan jauh lebih besar lagi tingkat keu...

Kurang-kurangin Big Loss

  Kamu pernah dengar kalimat “Hidup harus berani ambil resiko dong..”? Resiko adalah sahabat dekat dari setiap trader saham. Karena setiap keputusan yang diambil tentunya memiliki probabilitas resiko kerugian. Pada salah satu buku Mark Minervini, ia bercerita bahwa Mark bertemu dengan Ben-David coauthor buku “Are Investors Really Reluctant to Realize Their Losses?”. Pada buku tersebut membahas tentang investor retail membukukan keuntungan / kerugian sebesar apa dari setiap transaksi. Lalu buku tersebut juga menceritakan tentang apakah investor lebih menyukai menambah posisi sahamnya yang seperti apa yang telah ia beli sebelumnya. Dari temuan ini, ada beberapa kesimpulan menarik yaitu : -Investor memiliki kecenderungan untuk membukukan kerugian yang besar daripada keuntungan yang besar. Mereka cenderung menahan saham yang rugi terlalu lama dan menjual saham yang untuk terlalu cepat. -Investor juga memiliki kecenderungan untuk menambah posisi pada saham yang telah kehilangan nilai h...

Kamu Suka Berenang, Diving atau Surfing

  Kalau kita belum bisa berenang, rasanya orang-orang sekitar akan menawarkan kita untuk belajar renang dulu di dekat rumah, atau di kolam cetek dulu. Mungkin gak kalau kita ditawarkan untuk langsung diving di Bunaken ataupun surfing di Hawaii? Sepertinya itu bukan pilihan yang menarik dilihat dari kemampuan kita saat ini. Tapi apakah artinya diving atau surfing adalah hal yang gak baik? Sama saja ketika saya melihat trading saham sebagai sebuah bisnis. Begitu juga dengan hubungan antara hutang dan bisnis. Hutang hanyalah salah satu instrument daya leverage yang ada di sebuah bisnis. Itu adalah suatu hal yang netral. Namun saya melihatnya, ketika berbicara hutang misalnya membeli property ataupun menjalankan sebuah bisnis, seseorang cenderung berpikir matang karena perlu kualifikasi yang lebih kompleks untuk mendapatkan pendanaan. Berbeda dengan bursa saham, yang cukup deposit saham sebesar sekian ratus juta, maka kita sudah bisa meminjam dana yang hampir sejumlah modal kita. D...

KISS : Keep It Simple Stupid

 Kalau mau bertumbuh, biasanya kita memiliki sebuah goal tujuan yang sifatnya jauh di luar kita. Saya sendiri cenderung menaruh target di setiap tahun untuk perjalanan hidup saya. Dengan itu saya merasakan ada sebuah siklus yang sama setiap bertemu dengan sebuah target yang baru. Di mulai dari semangat, lalu pesimis karena ternyata susah sekali, lalu menyadari ternyata ada hal-hal yang perlu diperjuangkan untuk mewujudkan hal tersebut tentunya dengan pengorbanan di aspek lainnya dalam hidup. Bagi saya jarak yang ada antara saya dengan goal saya adalah, jembatan dari berbagai skill yang diperlukan untuk sampai ke tujuan. Hal itu seringkali membuat saya frustasi, karena most of the time semua hasil yang saya harapkan jauh dari kenyataan. Seringkali short escape bagi saya adalah melihat keseruan di tempat lain, yang akhirnya membuat saya tidak fokus pada tujuan utama saya. Untuk memastikan jembatan ini bisa mengantar saya pada tujuan akhir, saya perlu terima bahwa saya perlu memba...

Berteman dengan Trend

Ada banyak indikator di bursa saham untuk membantu kita memprediksi pergerakan suatu saham sendiri. Namun ada 1 indikator dasar yang menurut saya sangat penting, yaitu indikator garis trend – moving average. Saya percaya saham yang sedang memiliki trend turun, dalam 20 hari, 50 hari, dan 200 hari average menunjukkan belum adanya kekuatan untuk memiliki potensi bertumbuh besar. Meskipun secara track record menunjukkan keuntungan yang besar, cash flow yang banyak, hutang yang sedikit, dan lain halnya saya memilih untuk tidak membeli saham yang sedang down trend. Karena untuk harga bisa naik, diperlukan big money untuk menggerakannya. Ketika dana big money itu datang barulah ada kehidupan dari saham tersebut. Karena dana saya terbatas, saya perlu bijaksana dalam menaruh dimana dana saya perlu berhenti. Sangat sayang kalau saya membeli saham yang ‘terkesan’ murah namun dalam jangka waktu lama tidak ada kenaikan sama sekali. Lebih baik saya menunggu terhadap pergerakan sebuah saham dan ikut...

Yang Mahal, Bisa Jadi Itu yang Murah

 Gak selamanya yang murah itu murah, dan yang mahal itu mahal. Dulu saat saya berjualan asuransi merek tertentu, barang dagangan saya sering kali ditanyakan kenapa lebih mahal daripada barang lainnya? Saya sempat minder dan takut untuk berjualan karena merasa saya merugikan pihak lain. Namun ternyata ada hal lain dari sekedar harga, yaitu nilai-nilai lain yang dimiliki dari suatu hal tersebut dibandingkan dengan harga. Kita menyebutnya sebagai Price to Performance. Makanan yang mendekati expired akan dijual cenderung lebih murah daripada makanan fresh yang baru saja dibuat. Dari sini saya belajar, ga selamanya harga yang lebih murah artinya memiliki peluang keuntungan yang lebih besar. Sama halnya seperti di Asuransi ataupun di berbagai Industri lainnya. Sebuah produk yang mendominasi market biasanya akan dijual dengan harga yang lebih premium daripada yang kalah saing. Karena produk pemenang tersebut bisa memberikan nilai tambah, kualitas dan layanan yang lebih baik dibandingk...

Ratio Terbaik Dalam Menentukan Pergerakan Harga Saham

Suka bingung apa sih yang menggerakan harga sebuah saham? Saya melihat kalau ada saham-saham yang sudah dinilai mahal di bursa saham, tapi masih bisa saja naik lebih tinggi lagi. Tapi saya juga melihat kalau ada saham yang memiliki nilai intrinsik rendah, tapi harganya ga kemana-mana dalam waktu yang lama. Bagi saya, banyak cara melihat nilai sebuah saham. Semua sah-sah saja, karena semua orang punya preferensi yang berbeda kan? Kalau teman-teman tau, ada P/E Ratio sebagai ratio yang menunjukkan nilai intrinsik dari sebuah saham, dan sudah terjadi berkali-kali kalau gak selalu saham dengan P/E Ratio rendah akan memberikan hasil yang mengungguli saham dengan P/E Ratio yang sudah tinggi. Misalnya saja saya mengetahui seseorang yang beli sebuah lukisan dengan harga sangat mahal, tapi ada juga orang yang suka makan di warteg - hemat setiap waktu. Bagi saya, itu semua adalah persepsi pembeli terhadap suatu hal yang ingin ia beli. Jadi kembali lagi penggerak yang ada di bursa saham menurut s...

Wanna Big Win, But First of All, How Much I Can Lose?

Jeff Bezos pernah menyampaikan "If you have a 10% chance at 100x returns, you should always take it. You're still going to fail 9/10 times, but the rewards are well worth it". Menurut saya ini adalah pedoman yang keren dalam kita menentukan "yes/no" dalam sebuah keputusan. Kalau sebagai trader, saya melihatnya sebagai assymetrical return yang ada di bursa saham. Kita semua pasti mau kan kalau rugi sedikit, tapi kalau untung bisa berkali-kali lipat. Saya setuju, hal itu sangat memberikan competitive advantage untuk kita. Tapi dengan apa yang saya pelajari di bursa saham, saya merasa hal itu akan menjadi jauh lebih powerful ketika kita memasukkan 1 variable lagi tentang risk management. Jadi kalau misalnya, kamu punya modal 100 juta rupiah dan kamu dapat kesempatan untuk ikut sebuah project "goreng" bitcoin yang memiliki kemungkinan 10% untuk untung 100x lipat dari modal yang kamu taruh. Apakah kamu akan ikut dengan keseluruhan modal kamu? Sebagai trader...

Psikologi Harga Murah Pada Emiten Saham

Saat bertransaksi di bursa saham, ada 2 tipe pola pikir yang berbeda namun memiliki keunikannya masing-masing dalam pengambilan keputusan jual beli saham. Prinsip 1 : Beli saham yang harganya sedang turun Keuntungan terbesar yang ada di bursa saham adalah ketika kita bisa mengetahui kapan barang / saham itu ada di harga yang paling murah dan nantinya saham itu akan bergerak naik menciptakan keuntungan untuk kita.  Saya pribadi awalnya menggunakan pola pikir prinsip 1, namun saya mendapatkan pola pikir lain yang lebih sesuai untuk saya saat ini. Yang saya percayai di bursa saham adalah harga sebuah saham merefleksikan apa pengetahuan dan kondisi yang ada di bursa saham tentang kualitas dari saham itu sendiri. Artinya, ketika ada saham yang turun cukup banyak, umumnya ada pengetahuan dan kondisi yang kurang baik tentang saham itu sendiri. Kira-kira ketika saham tersebut diterpa sentimen yang kurang baik, misalnya dari profit perusahaan, keputusan manajemen perusahaan, dll. Lalu denga...

Taking Profit Kecil, Sedikit-sedikit Lama-lama Jadi Bukit?

Awal mula saya belajar trading saham, saya merasa kalau paling menguntungkan itu jika sering-sering merealisasikan profit 1-3% per tradingnya dalam bursa saham. Tapi kalau sahamnya rugi terus bagaimana? Ya, ditahan saja nanti juga naik lagi. Namun pada kenyataannya, saya merasa kalau keputusan untuk cepat-cepat ambil keuntungan di bursa saham dan terutama menahan kerugian yang ada di bursa saham itu beresiko fatal. Beberapa hal yang menurut saya kurang menguntungkan untuk mengambil untuk kecil adalah, sangat sulit kita menebak apapun yang ada di bursa saham karena sifatnya market is unpredictable, terutama di short term period. Titik. Dengan tidak bisa memprediksi market, rasanya akan sulit untuk kita memiliki kemungkinan ratio probability to win in trading 70% dari jumlah trading kita. Kalaupun kita punya ratio probability to win lebih dari 70%, jumlah kerugian yang terjadi di 30% itu bisa saja menghabiskan seluruh keuntungan kita dan malah membuat kondisi keseluruhan kita merugi. Bua...

Cara Terbaik untuk Investasikan Uangmu!

Banyak orang yang berlomba-lomba untuk berinvestasi dengan harapan bisa financial freedom di masa depan. Ada hal penting yang bagi saya perlu dilakukan dalam mengumpulkan uang. Selain Time is Money, Attention is the new Oil. Saya sering bertemu baik karyawan maupun pengusaha yang memiliki segudang potensi dalam usahanya namun terpecah fokusnya dengan memikirkan bagaimana strategi investasi terbaik untuk uang nganggurnya. Gak ada yang salah dengan memikirkan investasi passive income, namun kalau kita sadar ada namanya opportunity cost, dimana saat kita memikirkan tentang hal "baru" yaitu investasi, bisa saja saham, bitcoin, side hustle jualan baju, dll, maka hal itu bisa mengurangi atensi kita dalam mengembangkan pekerjaan ataupun usaha utama kita yang kita miliki. Bagi pengusaha, active income di usaha yang belum berjalan lancar bisa saja turun. Bagi karyawan, active income dalam kesempatan naik promosi bisa saja tersendat. Jika kita tidak fokus terhadap hal tersebut. Ini opi...

Kamu Tim #AveragingDown atau #AveragingUp?

Kita tidak bisa menebak 100% benar tentang harga saham yang ingin kita beli. Untuk itu ada cara agar kita tidak langsung masuk kepada satu harga dengan cara 'all in'. Karena jika kita langsung masuk dengan cara 'all in' begitu saham tidak bergerak ke arah yang kita inginkan, maka psikologis kita akan terganggu dengan volatilitas yang ada. Terdapat dua cara 'mencicil' saham yang sering terjadi yaitu dengan cara averaging down ataupun averaging up. Buat saya, kedua cara ini masih sama-sama bermanfaat namun tentu perlu term and conditionnya masing-masing. Namun sebagai seseorang yang sedang mempelajari tentang serunya trading di bursa saham, saya lebih sering mendengar keberanian orang untuk berani averaging down daripada melakukan averaging up, karena mindset tertentu. Meskipun kedua cara tersebut bisa menguntungkan dan membuat kita bangkrut. Averaging down sering ditemukan untuk teman-teman yang menyukai value investing, karena value investor sudah meriset dengan...

Kelola Resiko Trading Yang Bisa Buat Portofolio Kita Hancur

Saat kita melakukan trading, satu hal yang kita harapkan di akhir evaluasi kita per tahunnya adalah setidaknya keuntungan yang baik. Namun ada satu hal yang bisa membuat kita berhenti berada di market, yaitu adalah kehancuran portofolio kita yang disebabkan oleh kerugian trading. Meskipun sudah mempelajari serangkaian indikator atau chart pattern, tetap saja kita tetap menanggung resiko dimana market bergerak tidak sesuai dengan analisa dan harapan kita. Untuk itu, pengelolaan resiko dari money management adalah salah satu hal yang paling kritikal dalam dunia trading saham. Dalam buku The New Trading For Living, oleh Dr. Alexander Elder, dianalogikan saat kita sedang berenang di lautan (market), ada 2 jenis hal yang bisa menghancurkan kita yaitu serangan dari piranha-piranha kecil juga gigitan keras dari seekor hiu. Gigitan piranha menceritakan dimana kita bisa saja terdepak keluar dari market karena serangkaian gigitan kecil yang kita ga rasakan, tapi dampaknya kehancuran. Misalnya sa...