Langsung ke konten utama

Kamu Tim #AveragingDown atau #AveragingUp?


Kita tidak bisa menebak 100% benar tentang harga saham yang ingin kita beli. Untuk itu ada cara agar kita tidak langsung masuk kepada satu harga dengan cara 'all in'. Karena jika kita langsung masuk dengan cara 'all in' begitu saham tidak bergerak ke arah yang kita inginkan, maka psikologis kita akan terganggu dengan volatilitas yang ada.

Terdapat dua cara 'mencicil' saham yang sering terjadi yaitu dengan cara averaging down ataupun averaging up. Buat saya, kedua cara ini masih sama-sama bermanfaat namun tentu perlu term and conditionnya masing-masing. Namun sebagai seseorang yang sedang mempelajari tentang serunya trading di bursa saham, saya lebih sering mendengar keberanian orang untuk berani averaging down daripada melakukan averaging up, karena mindset tertentu. Meskipun kedua cara tersebut bisa menguntungkan dan membuat kita bangkrut.

Averaging down sering ditemukan untuk teman-teman yang menyukai value investing, karena value investor sudah meriset dengan matang saham mana yang memang under value dan memiliki potensi upside tinggi, sehingga semakin harga tersebut turun, semakin tinggi keinginan kita untuk mengoleksinya. Yang menjadi masalah adalah ketika kita seorang newbie yang mendengar sebuah stockpick, kita berupaya untuk terus mengkoleksi saham yang memang sudah 'salah harga'. Karena ketika saham itu salah harga secara signifikan (misalnya 15-25% dari harga beli kita) biasanya muncul 3 hal :

- terjadi perubahan fundamental, misalnya kebijakan pemerintah, kegagalan bisnis

- sentimen market saja, belum waktunya saham tersebut terbang

- kita masuk terlalu tinggi karena analisa kita yang kurang tepat

bahayanya adalah ketika terjadi perubahan fundamental, seorang value investor dengan cepat bisa mengambil tindakan cut loss dari analisanya yang meleset. Tapi... seorang newbie, seringkali ketinggalan berita, dengan iman yang sesat terus mengkoleksi saham tersebut. Seberapapun dana yang kita miliki jika kita terus mengkoleksi saham yang terjun payung, akhirnya dana kita akan habis juga karena mengkoleksi 1 saham rugi dengan jumlah mayoritas dari portoflio kita. Bisa jadi itu adalah end game kita di bursa. Averaging down juga bisa jadi sangat menguntungkan dengan syarat kita benar-benar bisa memastikan bahwa saham ini memang under value dan suatu saat akan kembali ke jalan yang benar (uptrend).

Ada cara kedua untuk mencicil saham, yaitu dengan averaging up. Hal ini sering menjadi cara entry terutama bagi trader-trader trend following. Karena seorang trader memperlakukan saham seperti mengelola sebuah bisnis, ada dua indikator penting yaitu - seberapa besar resiko dan momentum dari bisnis tersebut. Analoginya adalah kalau kamu adalah seorang pedagang, memiliki 2 jenis barang kaos 2 bakal calon presiden, dimana calon presiden A kaosnya tidak laku, dan calon presiden B kaosnya sedang laku (harga naik), kira-kira kalau kamu mau stok barang, yang mana yang mau kamu beli lebih banyak, apakah kaos presiden A yang kurang laku, atau B yang sedang memiliki banyak demand pembelian sehingga harganya terlihat lebih 'mahal'? Resiko terbesar kalau seseorang memilih menyetok kaos presiden A - mumpung harga beli saya masih lebih murah jadi kemungkinan jual lebih tinggi, adalah ia tidak bisa menjual lagi barang tersebut karena memang tidak ada yang mau beli, kecuali dia mau obral di harga yang jauh lebih murah.

Sebagai seorang pebisnis, kita juga perlu mengelola resiko. Dengan memanfaatkan momentum kenaikan, kita bisa memastikan secara statistik bahwa kita akan memiliki ratio kekalahan dengan jumlah nominal beli yang lebih kecil daripada jumlah ratio kemenangan dengan jumlah nominal yang lebih besar. Misalnya kalau kita pegang saham rugi dengan nominal 100.000, tapi kalau saham pemenang kita pegang dengan nominal 200.000, tentunya perbedaan tersebut akan memberikan ratio gain yang lebih baik untuk jangka panjang.

Cara apapun yang kita pilih, sama-sama bisa works asalkan kita paham cara mainnya. Salah satu pembelajaran pentingnya adalah bagaimana kita melakukan position sizing, misalnya 10% atau 20% dari total portofolio kita yang boleh masuk dalam 1 buah saham yang kita yakini. Karena mau sedalam apapun turunnya atau seberapa tinggi pun saham tersebut terbang, kalau kita tidak melakukan position sizing, maka nominal saham yang kita pegang bisa terlalu tinggi dan kembali menjadi resiko yang amat besar untuk kelangsungan kita di bursa saham. Pastikan kita memahami "When enough is enough".

Enough to win, enough to admit that we loss.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sing Penting Yakin

  Pernah suatu waktu saya ngobrol bertiga dengan teman saya, salah satunya adalah seorang agen asuransi. Si Agen Asuransi ini bercerita kalau, “Kenapa yah saya mau bantu orang lain untuk dapat peace of mind dan keamanan hidup melalui tapi kok orang lain memandang saya sebelah mata?”. Jawaban teman saya lainnya “Ya, karena kamu itu baru di field tersebut, blm ada hasilnya, maka wajar orang meragukanmu”. Dengan sedikit terpukul si Agen Asuransi bertanya lagi, “Yah, kalau gitu bagaimana caranya saya menjalankan bisnis ini dong? Setiap orang kan pasti mulai dari nol ga punya hasil apa-apa, gak mungkin tiba-tiba sudah banyak pengalamannya”. Jawab teman saya satu lagi, “Sing penting Yakin”. Wah, hal itu membekas di diri saya cukup lama. Saya sendiri juga mengalami, setiap kali kita memulai hal yang baru – sering kali kita blm punya any single proof tentang hal yang kita lakukan. Namun, yang membedakan adalah kata-kata “sing penting yakin” ini. Dimana apakah kita punya keyakinan / belie...

Wanna Big Win, But First of All, How Much I Can Lose?

Jeff Bezos pernah menyampaikan "If you have a 10% chance at 100x returns, you should always take it. You're still going to fail 9/10 times, but the rewards are well worth it". Menurut saya ini adalah pedoman yang keren dalam kita menentukan "yes/no" dalam sebuah keputusan. Kalau sebagai trader, saya melihatnya sebagai assymetrical return yang ada di bursa saham. Kita semua pasti mau kan kalau rugi sedikit, tapi kalau untung bisa berkali-kali lipat. Saya setuju, hal itu sangat memberikan competitive advantage untuk kita. Tapi dengan apa yang saya pelajari di bursa saham, saya merasa hal itu akan menjadi jauh lebih powerful ketika kita memasukkan 1 variable lagi tentang risk management. Jadi kalau misalnya, kamu punya modal 100 juta rupiah dan kamu dapat kesempatan untuk ikut sebuah project "goreng" bitcoin yang memiliki kemungkinan 10% untuk untung 100x lipat dari modal yang kamu taruh. Apakah kamu akan ikut dengan keseluruhan modal kamu? Sebagai trader...

Katanya Gampang, Kok Rugi?

Akhir tahun 2020 lalu, saham sedang naik-naik pamornya. Semua orang bertanya - berapa cuan lu hari ini? Di saham selalu ada 2 paham besar untuk bertransaksi dan meraih keuntungan di finansial market, dengan menjadi seorang fundamentalist (investor) atau seorang teknikal analist (trader). Mana sih yang lebih bagus? Kita ga pernah banding-bandingin Warren Buffet dengan George Soros, kita juga ga perlu banding-bandingin satu agama dengan agama lainnya kan. Tapi, sejauh ini sering banget saya mendengar teman-teman saya yang mengatakan saham tuh judi, kamu bakal rugi terus kl trading. Tapi saya jarang dengar investor yang gagal di bursa (mungkin karena mereka memang dipanggil investor ya? Jadi tahan saham dalam jangka waktu lama, meski merah ataupun hijau ya memang permainan mereka). Tapi setelah saya eksplor lebih jauh lagi, sebenarnya banyak loh traders hebat dalam sejarah trading. Salah satu yang lagi tenar akhir-akhir ini adalah Jim Simons, yang berhasil memecahkan rekor CAGR (rata-rata...