Langsung ke konten utama

Berteman dengan Trend

Ada banyak indikator di bursa saham untuk membantu kita memprediksi pergerakan suatu saham sendiri. Namun ada 1 indikator dasar yang menurut saya sangat penting, yaitu indikator garis trend – moving average. Saya percaya saham yang sedang memiliki trend turun, dalam 20 hari, 50 hari, dan 200 hari average menunjukkan belum adanya kekuatan untuk memiliki potensi bertumbuh besar.

Meskipun secara track record menunjukkan keuntungan yang besar, cash flow yang banyak, hutang yang sedikit, dan lain halnya saya memilih untuk tidak membeli saham yang sedang down trend. Karena untuk harga bisa naik, diperlukan big money untuk menggerakannya. Ketika dana big money itu datang barulah ada kehidupan dari saham tersebut.

Karena dana saya terbatas, saya perlu bijaksana dalam menaruh dimana dana saya perlu berhenti. Sangat sayang kalau saya membeli saham yang ‘terkesan’ murah namun dalam jangka waktu lama tidak ada kenaikan sama sekali. Lebih baik saya menunggu terhadap pergerakan sebuah saham dan ikut membeli saham yang mulai uptrend dengan harapan akan menjadi the next bagger.

Fundamental dari sebuah saham memang penting, tapi menurut saya perlu disesuaikan dengan pergerakan harga pada chart untuk memastikan memang saat ini harga mau mulai bergerak.

Seperti kata Max Minervini, “I’m not interested in being the first one to the party, but I do want to make sure there’s a party going on”.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sing Penting Yakin

  Pernah suatu waktu saya ngobrol bertiga dengan teman saya, salah satunya adalah seorang agen asuransi. Si Agen Asuransi ini bercerita kalau, “Kenapa yah saya mau bantu orang lain untuk dapat peace of mind dan keamanan hidup melalui tapi kok orang lain memandang saya sebelah mata?”. Jawaban teman saya lainnya “Ya, karena kamu itu baru di field tersebut, blm ada hasilnya, maka wajar orang meragukanmu”. Dengan sedikit terpukul si Agen Asuransi bertanya lagi, “Yah, kalau gitu bagaimana caranya saya menjalankan bisnis ini dong? Setiap orang kan pasti mulai dari nol ga punya hasil apa-apa, gak mungkin tiba-tiba sudah banyak pengalamannya”. Jawab teman saya satu lagi, “Sing penting Yakin”. Wah, hal itu membekas di diri saya cukup lama. Saya sendiri juga mengalami, setiap kali kita memulai hal yang baru – sering kali kita blm punya any single proof tentang hal yang kita lakukan. Namun, yang membedakan adalah kata-kata “sing penting yakin” ini. Dimana apakah kita punya keyakinan / belie...

Satu Kali Ini Saja...

  Berangkat kerja setiap hari, kadang-kadang ada saja tantangan yang di hadapi, entah jalanan macet karena hujan, ada truk mogok, jalanan macet dll. Sehingga pernah ada masanya ketika saya terlambat pergi ke kantor, saya memberanikan diri untuk lewat “jalur transjakarta” agar tidak telat absensi pagi. Rasanya deg-degan dan syukurnya aman dari polisi saat itu. “Satu kali ini saja…” pikir saya. Namun karena aman saat itu, jadi rasanya besok-besok saya cukup PD untuk datang kantor mepet. Toh, kalau mepet bisa lewat jalur busway lagi. Sampai akhirnya saya membaca tulisan Mark Minervini di bukunya “Think & Trade Like a Champion”, ia menyatakan bahwa hanya dengan pernah mengalami keuntungan besar dalam trading saham 1x – belum tentu artinya cara yang ia lakukan adalah benar. Bayangkan kalau ada 2 orang yang berusaha menyeberang jalan raya besar. Seorang A menyebrang dengan melihat kanan kiri, dan seorang B menyebrang dengan menutup matanya. Pada satu kali percobaan, seorang B berha...

Lebih Baik Trader Retail atau Membeli Reksadana Saham?

Kenapa saya mau trading saham pribadi dibanding mempercayakan dana saya kepada fund manager (reksadana) yang ada? Karena saya percaya, kita bisa mencapai hasil yang lebih baik dari fund manager itu sendiri. Tentunya dengan usaha, pembelajaran dengan waktu yang dalam jangka panjang. Bagi saya ada beberapa kerugian yang dimiliki oleh fund manager yang bisa mengakibatkan kurang efektifnya hasil dari trading itu sendiri. Fund manager memegang dana yang sangat besar, puluhan, ratusan milyar bahkan triliunan rupiah. Dengan dana sebesar itu, mereka perlu menjaga liquiditas dalam pembelian sebuah saham. Mayoritas saham yang dibeli adalah saham yang memiliki kapitalisasi sangat besar. Padahal sejauh yang saya tahu, banyak sekali saham dengan hasil super performance, memiliki likuiditas yang jauh lebih kecil. Fund manager jadi susah masuk ke saham dengan market cap kecil, namun kalaupun bisa membeli saham tersebut, kesulitannya tiba saat perlu menjual saham tersebut di market yang downtrend. Say...